Monday, 13 April 2009

Teroris Pendidikan


Dari judul terlihat sangat tidak menyenangkan dan bisa-bisa membuat penasaran bagi yang membaca tapai bukan bersifat merendahkan Pendidikan di Indonesia tapi saya hanya mengungkapkan sedikit masalah yang mengganjal di hati. Hari berganti hari sangat tidak terasa sesuatu acara yang besifat Nasional akan segera dilaksanakan tidak kalah hebohya dengan Pemilu Legislaif yang baru saja dilaksanakan, acara tersebut juga memerlukan persiapanyang sangat matang dan melibatkan banyak unsur acara tersebut ialah Ujian Nasional (UN) yang tidak lama lagi akan kita mulai dan tinggal menghitung hari. Untuk siswa SMA/MA UN diagendakan pada 20-22 April 2009 dan susulannya tanggal 27-29 April. Hingga kini belum ada kepastian berapa mata pelajaran yang diujikan. Namun bisa dipastikan, 6 mata pelajaran yang diujikan pada UN lalu akan kembali diujikan untuk UN 2009 mendatang.
Untuk tingkat SMP/MTs UN akan digelar 4-7 Mei 2009, dengan UN susulan tanggal 11-13 Mei 2009. Apabila pada UN yang lalu diujikan 4 mata pelajaran, besar kemungkinan untuk tahun nanti akan ditambah 1 atau 2 mata pelajaran lagi. Dari isu yang berkembang mata pelajaran IPS dan PKn besar kemungkinan mulai diujikan. Persiapan yang dilakukan oleh Puspendik telah dilakukan sejak tahun lalu, yakni dengan mulai mempersiapkan soal-soal IPS dan dihimpun dalam bentuk bank soal.
Sementara, peserta UN dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan UN, yakni memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Khusus untuk SMK, nilai mata pelajaran Kompetensi Keahlian KejurUN minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN.
Dari hal tersebut di atas banyak membuat semua orang resah dan khawatir akan terjadi kegagalan. Hal ini dikarenakan standar kelulusan yang tinggi dan bertambahnya mata pelajaran yang diujikan yang pada tahun lalu hanya 3 mata pelajaran sekarang menjadi 6 mata pelajaran. Semua unsur yang terlibat merasa khawatir diantaranya 1) Siswa sangat merasa khawatir karena dia yang terlibat langsung, siswa sangat merasa cemas dengan perasaan yang tak menentu lebih-lebih yang memiliki persiapan yang tidak matang. Siswa merasa malu jika tidak lulus ujian, seolah-olah mereka belajar 3 tahun tidak ada hasilnya, mau mengulang malu, takut pada orangtua dan secara psikologis menjadi rendah diri. 2) Orang Tua, tidak hanya siswa saja yang khawatir dalam menghadapi ujian tahun ini tetapi juga orangtua, mereka rela mengeluarkan uang banyak demi anaknya untuk persiapan ujian dari memasukkan ke bimbingan belajar sampai mendatangkan guru privat ke rumah. Orang tua juga merasaan malu jika anaknya tidak lulus, uang yang telah mereka gunakan untuk membiayai anaknya seolah-olah tidak ada hasilnya. 3) Sekolah, kekhawatiran sekolah adalah persentase kelulusan ujian nasional yang diperoleh kecil. Jika persentase kelulusan kecil maka sekolah akan menanggung beban moral terhadap masyarakat karena merasa gagal dalam melakukan proses pembelajaran di sekolah. Kegagalan tersebut juga sebagai indikator mutu sekolah, walaupun sebenarnya angka kelulusan hanya merupakan salah satu indikator keberhasilan sekolah. Namun selama ini masyarakat menilai bahwa mutu sekolah dapat dilihat dari angka kelulusan yang dicapai. 4) Pemerintah, kekhawatiran pemerintah lebih-lebih pemerintah daerah adalah mendapatkan persentase kelulusan tingkat propinsi yang rendah sehingga memperoleh peringkat rendah di antara propinsi-propinsi yang lain. Peringkat hasil ujian nasional ini juga sering digunakan sebagai indikator tingkat kemajuan di bidang pendidikan pada suatu daerah. Inilah sebabnya daerah juga khawatir akan gagal dalam menghadapi ujian nasional.
Ekspresi kekhawatiran tersebut sebetulnya sudah dialami pada tahun-tahun sebelumnya. Untuk mengekspresikan kekhawatiran yang sudah terjadi adalah melalui berbagai cara, antara lain adanya usaha untuk menggagalkan pelaksanaan ujian nasional, melalui penyampaian aspirasi melalui media massa, demonstrasi dan bentuk-bentuk yang lain. Bahkan usaha penolakan pelaksanaan ujian nasional juga dilakukan oleh sebagian dari kalangan pendidik. Mereka merasa bahwa penilaian adalah merupakan hak pendidik, jadi kurang pas bila dievaluasi selain pendidik, begitulah yang terjadi di tahun sebelumnya. Kekhawatiran yang dimiliki oleh siswa, sekolah maupun pemerintah daerah, baik tingkat kabupaten maupun propinsi menumbuhkan semangat untuk melakukan usaha untuk meraih sukses dalam ujian nasional. Bentuk usaha mereka bermacam-macam misalnya pihak sekolah menambah jam pelajaran yang berkaitan dengan UN menjadi banyak pada kelas 3, sekolah juga mengadakan les tambahan pada sore hari hingga mengadakan try out ujian nasional. Ada beberapa pemerintah daerah yang bekerja sama dengan bimbingan belajar untuk memberikan les tambahan bagi siswa kelas 3, sampai-sampai mengadakan shalat hajad bersama dengan seluruh siswa kelas 3 untuk memperlancar Ujian Nasional (usaha dan doa), supervisi persiapan ujian nasional dan bentuk-bentuk lain yang serupa.
Usaha dan doa telah mereka tempuh demi suksesnya UN, tapi yang sangat membuat hati saya sakit dan bertanya-tanya mengapa ini bisa terjadi dibalik usaha yang baik tersebut ada saja kecurangan-kecurang yang terjadi, sebelumnya saya mohan maaf jika kata-kata saya kurang berkenan akan tetapi saya hanya bermaksud mengungkapkan fakta yang semala ini menjadi rahasia umum. Kecurangan ini terjadi pada siswa, guru, sekolah bahkan mungkin di tingkat pemerintah daerah. Sebulan bahkan lebih sebelum UN dilaksanakan pihak sekolah membentuk TIM SUKSES dimana di dalam tim tersebut adalah guru-guru yang mengajar mata pelajaran yang di UN kan, mereka bekerja berdasarkan job-jobnya disini saya memberikan contoh ada salah seorang guru mendekati pengawas di local kelas yang pengawas tersebut dari sekolah lain yang ikut UN juga mereka meminjam soal tersebut jika soal tidak ada lebih mereka meminjam kepada salah seorang siswa, dan selanjutnya guru yang mengajar mata pelajaran tersebut akan menjawabkan sedikitnya ½ dari jumlah soal yang diujikan, kemudian jawaban tersebut diedarkan memalui tempat tertentu seperti WC dan kamar mandi, banyak siswa yang izin ke belakang saat ujian berlangsung, karena siswa sudah diberi tahu sebelumnya, bahkan ada juga guru pada suatu sekolahan yang secara terang-terangan memberikan jawaban di ruang ujian. Sebetulnya ini sudah melanggar tata tertib, namun hal yang semacam ini tidak muncul dalam permukaan walaupun ada tim pengawas independen. Dengan kecurangan seperti itu maka tidak aneh jika sekolah yang betul-betul taat pada tata tertib malah gagal dalam ujian nasional. Ada lagi bentuk lain yang lebih halus guru yang telah mengerjakan soal tersebut pada akhir UN pengawas tidak diperkenankan mengelem amplop jawaban karena jawaban tersebut akan dirubah sebelum diantar ke Dinas Pendidikan, dan anak-anak diberitahunakn sebelumnya untuk tidak terlalu tebal dalam menghitami jawaban supaya mudah diganti. Untuk mengelabui pihak pengawas independent pihak sekolah cukup banyak mengelurkan uang dari memberikan layanan prima mulai dari dating sampai pulung mereka disuguhi beraneka macam mulai dari kue, minuman, Koran hingga ditemani ngobrol agar mereka tidak mondar-mandir kesana kemari, ada juga mereka yang pulang di kasih amplop yang berisi cukup lumayan untuk menambah penghasilan mereka. Pihak kepolisian juga diperlakukan seperti itu jadi mereka sangat senang kalau bisa tiap bulan UN juga tidak apa-apa. Dengan kecurangan-kecurangan tersebut menjadikan ujian nasional tidak dapat digunakan sebagai fungsi yang sebenarnya seperti tersebut dalam Permendiknas No 34 yaitu “Ujian Nasional bertujuan menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi”.
Kecurangan UN alangkah menyedihkan jika ternyata angka yang tertera dalam ijazah merupakan Teroris bagi tujuan pendidikan yang mulia, pendidikan tidak bertujuan dari sebuah angka untuk menentukan kesuksesan belajar akan tetapi penilaian proses bukan penilain akhir karena pendidikan merupakan prosen perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manuasia melalui upaya pengajaran dan pelatihan : proses, perbuatan dan cara mendidik. Dengan pendidikanlah karekter seseorang terbentuk, jadi buanglah anggapan bahawa suksesnya pendidikan dapat diliat dari angka 1 sampai 10, dan sangat tidak pantas bagi mereka penentu kebijakan bahwa beranggapan suksesnya sebuah sekolah dinilai dari rata-rata kelulusan UN 100 persen.
Untuk itulah agar ujian nasional betul-betul dapat digunakan sebagai alat guna mengukur ketercapaian kompetensi lulusan secara nasional, maka setiap komponen yang terkait dalam pelaksanaan ujian nasional harus berpegang pada ketentuan-ketentuan yang telah dibuat. Adapun jika hasilnya buruk secara nasional maka yang perlu ditinjau kembali adalah alat ukurnya. Mungkin alat ukur (naskah ujian) terlalu sulit dan belum pas untuk mengukur siswa kita secara nasional. Bisa juga terjadi terlalu mudah sehingga perlu dinaikkan tingkat kesulitannya. Adapun untuk mengatasi sementara jika terjadi angka kelulusan sangat rendah secara nasional maka bisa dilaksanakan ujian ulangan perbaikan seperti yang telah dilakukan.



Artikel Yang Berhubungan



3 comments:

Pengangguran Menulis Mimpi said...

Judulnya mengerikan, Pertamaxxxxxxxxxxxxxx

Syamsuddin Ideris said...

Saya tidak setuju dengan kaalimat: jika hasil un jelek maka UN patut dikaji ulang karena alat ukurnya terlalu sulit.

Menurut saya sih, kalau hasi UN jelek itu menandakan ada yang tidak beres dengan sistem pendidikan saat ini. bukannya alat ukurnya yang jelek, tapi memang yang diukur itu mutunya memang jelek..

Anonymoussaid...

sebenernya UN mending gk sah di adain bikin lah ujian akhir aja, gk usah ada UN, kasian sekolah 3thn ujung2nya gk lulus. ijasah pket c lagi. paket c kn dah gk dianggap di kebayakan unversitas.
untung ja ulun lulus sma 1 paring thn 07 masih bisa lulus, lulus di bantu seh...heheh

buat angatan 2008/09
semangat coy


benzt_bget

Post a Comment

Terima Kasih Telah Beri Komentar, Mohon Maaf Seandainya Pelayanan Kami Tidak Memuaskan